Senin, 01 Agustus 2016

Selamat Tinggal Masa Orientasi (Kolot?)



Haii kawann lama gak jumpa nih sama Mala, maaf yaa kemarin Mala lagi sedikit sibuk jadi belum sempet upload apapun di blog Mala. Nah, kali ini Mala mau berbagi sebuah tajuk yang Mala buat sendiri lhoo, mengenai MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah). Disimak baik-baik yaa karena kalian pasti nyesel deh kalo gak baca tajuk Mala dibawah ini!


Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) memang masih asing terdengar di telinga kita. Tetapi setelah mengetahui arti yang sebenarnya dari MPLS ini, tak sedikit orang yang mendukung gerakan penghapusan Masa Orientasi Siswa (MOS) yang terkesan lebih fresh dan tak kolot ini.
 
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) merupakan versi baru Masa Orientasi Siswa (MOS). MPLS disebut-sebut sebagai biang penghasil anak-anak remaja yang lemah dan manja. MPLS juga tak jarang dibanding-bandingkan dengan MOS oleh siswa-siswa terdahulu bentukan MOS, karena kebanyakan remaja yang sudah merasakan MOS mempunyai rasa dendam terhadap adik kelasnya. Mindset pertama yang mereka dapatkan dari MOS adalah “Bagaimana cara agar adik kelas saya nanti, merasakan hal yang sama seperti yang saya rasakan sekarang ini”. Bukannya bertujuan untuk mendidik atapun membimbing adik-adik kelasnya.
MOS memang banyak meninggalkan bekas luka bagi siswanya karena mereka merasa banyak sekali kerugian yang mereka dapatkan dari MOS, sehingga tak heran tak sedikit siswa yang ingin membalas dendam.. Melihat keadaan tersebut pemerintah berusaha untuk mengerti keadaan dari calon-calon pemimpin bangsanya ini, dengan mengadakan MPLS. Karena jika calon-calon pemimpin bangsa mempunyai mindset sebagai pendendam maka bagaimana bangsa ini di masa depan? Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah adalah solusi dari masalah bangsa kita di masa depan tersebut.
Melalui MPLS siswa bukannya di didik untuk bersikap manja tetapi siswa di didik untuk bersikap berkeluarga dan disiplin. Meskipun tingkat kedisiplinan MPLS tak seketat MOS tetapi tingkat kekeluargaan di MPLS jauh lebih erat. Tugas-tugas dalam MPLS juga berbeda jauh dengan tugas yang diberikan di MOS. Tetapi tak berarti tugas di MPLS ini lebih ringan dibandingkan dengan tugas di MOS. Sebenarnya tugas di MPLS tak seberapa jika dibandingkan dengan tugas di MOS karena tugas MPLS cenderung lebih menggunakan kekuatan otak dibandingkan dengan kekuatan otot, yang jauh lebih berat.
MPLS juga mendidik dan mengajarkan apa itu yang disebut dengan ramah. Mereka diajarkan agar bersikap hormat dan  santun terhadap orang yang lebih tua, mereka sepenuhnya di bentuk agar tak mengetahui segala jenis bentuk perploncoan. Karena siswa yang mengikuti MPLS tak pernah mendapatkan tekanan dari pihak manapun atau dalam bentuk apapun.
Seiring keadaan masyarakat mulai menyadari bahwa MPLS bukanlah seperti yang selama ini diberitahukan oleh siswa bentukan MOS. Masyarakat sekarang tau bahwa MPLS adalah sebuah pencapaian baru demi menghapuskan budaya tak benar yang akan membuat calon-calon pemimpin bangsa itu berada di jalan yang salah. MPLS dapat membuat bangsa Indonesia lebih maju, karena lewat MPLS karakter disiplin, ramah, cinta lingkungan dan cinta sesama terikat dengan erat dan kokoh. Maka sekarang saatnya kita ucapkan selamat datang MPLS fresh, selamat tinggal Masa Orientasi kolot.

Minggu, 17 Juli 2016

(PB3AS)






 

                                                       PBB        (PB3AS)

Berseru di atas kotak hitam

Podium Bali bebas bicara merupakan suatu tempat yang berfungsi sebagai wadah bagi masyarakat Bali untuk mengutarakan aspirasinya. Di tempat ini, kita semua bebas berbicara masalah politik, agama, ekonomi, sosial budaya bahkan masalah rumah tangga atau masalah pribadi lainnya. Aspirasi yang sudah disuarakan akan dicatat dan dijadikan silbus pertimbangan dan evaluasi kebijakan pemerintah daerah.

Dilansir dari weeklyline.net-Terobosan pemerintah Bali itu semakin menjadikan Bali sebagai land mark provinsi paling demokratis di Indonesia. Sebagai pemimpin Bali, Made Mangku Pastika merasa partisipasi publik ternyata masih kurang. Simakrama (dialog terbuka) rutin sebulan sekali belum cukup menampung daftar panjang aspirasi rakyat. Kini, media massa (kebebasan pers), simakrama, dan PBB semakin menguatkan posisi masyarakat sipil (civil society) dalam membangun pemerintahan daerah yang bersih dan adil di Bali. Dengan begitu, rakyat tidak saja berhenti sebagai pelengkap penyerta kekuasaan politik, melainkan sebagai subyek kekuasaan itu sendiri.

Antusiasme Masyarakat Bali

Yes! Ada pak Ogah

Terimakasih minumannya pak Ogah

Banyak pasang mata yang tertuju padanya

Tepuk riuh mengakhiri Sang Pembicara Bebas

Thanks buat yang udah baca:D jangan lupa tulis komentar kalian di kolom komentarnya yaa
Menerima segala jenis komentar!! See youu 

Rabu, 06 Juli 2016

Evaluasi Proses Pembelajaran di Kelas


Haii guyss!! ketemu lagi ni sama Mala yang manisnya alami tanpa pemanis buatan~ oke stop alaynya!! Kali ini, Mala mau ngasi temen temen satu artikel yang mungkin bakalan bermanfaat bagi kalian yang sekarang berprofesi sebagai pengajar maupun pelajar. Penasaran kan artikel apaan? Monggo langsung di baca aja yaa (^, ~)
Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku seseorang dari yang tadinya ia tak mengerti dengan sesuatu menjadi mengerti dengan hal tersebut. Sedangkan proses pembelajaran di kelas merupakan proses mendapatkan ilmu yang terjadi di dalam kelas yang melibatkan siswa dan guru di dalamnya. Proses pembelajaran yang baik memerlukan proses interaksi oleh semua komponen yang terlibat dalam pembelajaran di kelas, baik antara guru dengan siswa, hingga antar sesama siswa itu sendiri. berikut adalah beberapa aspek yang dapat dijadikan evaluasi bagi guru dalam proses pembelajaran yang ada di dalam kelas :

1.      Saat Pembelajaran Baru di Mulai
Saat guru masuk ke dalam kelas untuk mengajar, hal pertama yang akan dilakukan oleh guru adalah membuka pembelajaran. Berbagai macam cara dapat dilakukan untuk ini, akan tetapi alangkah baiknya jika guru membuka pelajaran dengan berdo’a bersama dan hal selanjutnya yang dilakukan oleh guru adalah mengapresiasi siswanya atas pencapaiannya pada beberapa saat yang lalu mereka capai, sehingga dapat memotivasi siswa lainnya. Selanjutnya, menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dalam pembelajaran tersebut.
Banyak guru yang tak melakukan dua hal penting  ini saat proses pembelajaran dimulai. Merupakan hal yang sangat buruk apabila guru dalam melakukan proses interaksi belajar-mengajar melupakan kedua hal yang sangat penting ini. Karena apabila siswa tidak diberikan apersepsi maka tentu saja mereka akan sulit untuk mengaitkan apa yang akan mereka pelajari dengan apa yang telah mereka kuasai di pelajaran sebelumnya. Motivasi belajar sendiri merupakan hal  yang sangat penting untuk mereka karena motivasi ibarat sebuah pendorong yang akan membantu siswa mengikuti kegiatan pembelajaran dengan perasaan senang tanpa beban. Tujuan pembelajaran yang ingin dicapai disampaikan pada saat proses pembelajaran, agar siswa mengetahui apa yang akan mereka harus kuasai setelah mengikuti sebuah kegiatan pembelajaran.

2.      Saat Menyampaikan Materi
Banyak guru-guru kita yang masih belum kreatif dalam menyampaikan materi. Mereka hanya menggunakan metode seperti ceramah saja pada saat menyampaikan materi tersebut, sehingga itu menjadi sebuah pembelajaran yang monoton bagi siswa, siswa yang mengikuti proses pembelajaran itupun menjadi kurang bersemangat bahkan malas saat mengikuti pembelajaran. Apalagi materi yang dibawakan oleh guru tersebut dianggap berat dan susah di mengerti.
Sebaiknya, dalam menyajikan materi pelajaran guru menggunakan beragam cara, media, dan alat, bukan hanya dengan berceramah saja. Keterampilan menyajikan pembelajaran secara baik oleh guru akan menambah kualitas bagaimana guru berinteraksi dengan baik dengan siswa, serta antara siswa dengan siswa selama proses pembelajaran berlangsung.

3.      Penggunaan Bahasa Yang Komunikatif
Bahasa adalah alat komunikasi yang paling baik dan mudah di mengerti. Bahasa yang dimaksud di sini bukan hanya bahasa secara lisan akan tetapi juga mencakup bahasa seperti gerak tubuh dan mimik wajah. Guru yang pandai berbahasa baik secara lisan maupun nonlisan seperti gerak tubuh dan wajah akan menjadi guru yang disenangi oleh siswanya karena kebanyakan siswa menyukai guru yang ekspresif karena dianggap tidak membosankan.
Banyak guru yang tak mempunyai kemampuan untuk mengekspresikan dirinya sehingga ia menjadi tak di senangi oleh siswanya karena dianggap membosankan. Kalau guru semacam ini yang tak mempunyai kemampuan untuk mengekspresikan apa pemikirannya maka dapat di kemukakan secara lisan. Tetapi kata-kata yang digunakan dalam berkomunikasi juga harus dipilih secara tepat sehingga tak dianggap membosankan, serta dapat terus memotivasi siswanya sehingga memudahkan proses pembelajaran siswa. 

4.      Guru Memberikan Umpan Balik
Siswa memerlukan umpan balik dari seorang guru mengenai pengetahuan atau keterampilan yang baru saja mereka pelajari, apakah sudah dikuasai dengan baik, sudah dipahami dengan benar, atau tidak. Siswa tidak akan mampu menilai dirinya sendiri apakah sudah melakukan sesuatu dengan tepat atau belum, sudah menguasai suatu konsep pembelajaran dengan benar atau masih keliru. Mereka membutuhkan umpan balik, agar mereka dapat mengulang kembali penguasaan materi mereka dengan cara mereka sendiri tetapi dalam konsep yang benar. Sebaliknya, apabila mereka belum menguasai pengetahuan atau keterampilan dengan benar dan sempurna, maka mereka perlu diberi tahu oleh guru pada bagian mana dari pengetahuan atau keterampilan siswa yang belum mereka kuasai dengan baik dan bagaimana cara memperbaikinya. Banyak guru yang tak melakukan poses umpan balik ini. Mereka cenderung malas untuk menguji kemampuan dari siswanya, apakah siswanya itu sudah benar-benar mengerti atau belum.

5.      Menggunakan Waktu Secara Efektif
Setiap kegiatan pembelajaran dapat dibagi menjadi 3 bagian utama, yaitu kegiatan awal pembelajaran, kegiatan inti pembelajaran dan kegiatan akhir pembelajaran. Semuanya mempunyai porsi masing-masing, di mana waktu terbesar diberikan pada kegiatan inti pembelajaran. Akan tetapi banyak guru yang malah melebihi porsi pada kegiatan inti pembelajaran ini meskipun porsi waktunya adalah yang paling besar sehingga siswa merasa lelah akan banyaknya materi pelajaran yang diterimanya. Saran bagi para guru, gunakanlah waktu dengan baik dan tak melebihi porsi sehingga interaksi pembelajaran dengan siswa menjadi efektif dan efisien.

6.      Membuat Penilaian
Selama proses pembelajaran berlangsung, guru yang melakukan interaksi dengan baik dengan siswa akan selalu membuat penilaian. Penilaian ini dapat guru lakukan selama proses pembelajaran berlangsung ataupun di akhir pembelajaran. Hal ini sering dilupakan oleh guru, padahal hal ini sangat diperlukan oleh guru untuk mengetahui seberapa mampu guru itu dalam menyampaikan materi pada siswanya serta siswa sendiri juga membutuhkan penilaian ini untuk introspeksi diri mengenai seberapa banyak atau seberapa jauh mereka mengerti materi yang disampaikan guru tersebut.

Sekian beberapa evaluasi mengenai proses pembelajaran yang ada di kelas. Semoga dapat bermanfaat bagi semua komponen yang terlibat dalam kelas. 
Tetap semangat dalam mempelajari apapun kawan, karena belajar tak kan pernah ada umurnya!! 

Jika ada saran atau masukan, jangan malu-malu tulis di kolom komentar yaa :** di tunggu komentarnya teman teman^,^ see you!!!